Skip navigation

Malam ini sama saja seperti malam-malam sebelumnya. Mungkin juga akan sama dengan malam-malam berikutnya. Keheningan malam dan dinginnya udara selalu setia menemani saat tidurku.

Kuambil balok kayu yang tergeletak di sampingku untuk kubuat alas kepala, seperti hari-hari sebelumnya. Kemudian kuraih selembar selimut tipis di depanku, tepatnya selembar kertas karton untuk sedikit menghangatkan badan. Dua benda ini adalah hartaku yang paling berharga, disamping dua helai kain yang selalu menutupi tubuhku hari demi hari. Tahun demi tahun.

Mungkin sampai matipun benda-benda inilah yang akan selalu setia menemaniku.

Aku hanya memiliki satu harta yang paling berharga. Harta yang dimiliki semua manusia, sayang kadang mereka tak tahu cara menggunakannya. Peti harta ini hanya dapat kita buka ketika kita tidur.

Peti harta itu berisi mimpi.

Bagiku, mimpi adalah sesuatu yang paling indah dari semua yang ada. Apapun bisa kita dapatkan dari mimpi. Asalkan kita tahu bagaimana cara untuk menyelam ke dalamnya.

Saat mataku mulai terpejam, aku teringat kembali akan suatu hal. “Dreams a lot, kid,” begitulah kata orang-orang yang pernah mengenalku. Inilah saat-saat yang paling menyenangkan. Saatnya untuk menyelami dunia mimpi.

Saatnya untuk tidur.

“Bangun, Nak.”

Aku mendengar suara orang. Ketika aku sadar, ternyata aku sudah tak berada di tempat biasanya aku berada. Ini adalah mimpi pertamaku setelah aku mengalami sebuah insiden buruk yang membuatku tak bisa tidur.

Kali ini aku terbangun di sebuah ruangan bercat hijau, dengan kasur berseprei warna hijau dan kelambu warna hijau pula. Orang yang membangunkanku ternyata juga berpakaian hijau-hijau.

Tanpa menyentuh tubuhku sedikitpun, orang itu beranjak pergi, meninggalkanku sendiri di ruangan serba hijau ini. Eksistensiku di sini bukanlah apa-apa, bahkan tak bernilai sedikitpun. Tak layak bagiku untuk memakai jubah sutera meskipun itu diberikan secara cuma-cuma. Bahkan kaktus kecil yang duduk di sampingku ini lebih layak untuk memakai, menyobek, maupun menjualnya.

Berbunga. Kaktus kecil itu berbunga.

Pintu kamar yang terletak kira-kira tiga meter dari tempatku berbaring perlahan-lahan terbuka. Seorang wanita, kali ini dengan pakaian serba putih bersih dan bercahaya masuk, membawa sebuah nampan dari emas.

Malaikatkah dia?

Satu detik.

Aku memandangi wanita itu dengan penuh tanda tanya. Dia membalasnya dengan sebuah senyuman. Senyum seorang malaikat.

Dua detik.

Entah bagaimana tetapi dia menghilang, dengan segera.

Halusinasi? Benarkah?

Tiga detik.

Tengkukku. Terasa lebih dingin dari biasanya.

Empat detik.

Kali ini sebuah sentuhan. Sentuhan yang sangat dingin, sedingin salju.

Lima detik.

Aku tak akan tahu apa yang bakal menimpaku selanjutnya.

Sebuah pukulan.

Enam detik.

Gelap.

“Ugh!!!”

Aku tersentak dari tempatku berbaring. Masih malam. Entah kenapa hari-hari ini aku tak pernah dapat menyelesaikan mimpiku.

Peti harta itu mencampakkanku selagi aku menyelam ke dalamnya, sekali lagi. Meski aku mencoba untuk tidur, mimpi itupun takkan pernah menjemputku.

Sial.

Aku mengutuki diriku sendiri.

“Ehm..”

Aku menengadahkan kepalaku. Ternyata di hadapanku sudah menunggu seorang gadis berkimono cokelat, dengan wajah tanpa emosi.

“Maaf Tuan Shino, tetapi Tuan harus pulang ke rumah. Keluarga di rumah sedang menunggu kepulangan Tuan.” kata gadis itu dengan sedikit tersenyum.

Aku sedikit bingung. Gadis ini gila atau apa?

“Mmm, maaf tapi saya tak tahu maskud kedatangan Anda ke sini.”

“Kumohon Tuan, jangan mengada-ada.”

Dari matanya dapat kulihat bahwa gadis ini bersungguh-sungguh. Tak ada, tak ada selumbar kebohongan satupun di pelupuk matanya. Aku jadi tak yakin.

“Mari pulang, Tuan. Citra keluarga Asuka akan tercoreng bila Tuan tetap tinggal di daerah kumuh ini.”

Asuka?

Shino… Asuka?

Rasanya aku pernah mendengar nama itu.

Tapi di mana?

Kapan?

Selagi aku mengingat-ingat dari mana aku tahu nama tersebut, aku akan mengiyakan ajakan gadis yang dari tadi hanya menunggu satu jawaban.

“Baiklah. “

“Syukurlah.”

Diapun mengajakku berjalan sejenak sampai berhenti di depan sebuah mobil. Sangat bagus, sampai aku tak bisa berkata apa-apa.

Mobil semacam ini hanya pernah kutemui di dunia mimpi.

Dunia mimpi? Ah, aku teringat saat aku menjadi pengusaha kaya di Amerika hanya karena tak sengaja menemukan rancangan produk Microsoft yang dijatuhkan oleh seorang staffnya. Setelah melalui berbagai jalan berliku, akhirnya aku dapat menyerahkan rancangan tersebut pada Bill Gates dengan tanganku sendiri.

Gadis berkimono cokelat tadi membukakan pintu mobil dan mempersilakan aku masuk.

Di dalam mobil aku hanya memikirkan nama Shino Asuka.

Shino Asuka.

Shino.

Asuka.

Tiba-tiba aku terbayang sesuatu.

Banjir darah.

Di mana-mana.

Saat itu.

“Ugh…” rintihku. Aku merasakan sakit yang luar biasa di ubun-ubun kepalaku.

Saat itu pula terbersit di pikiranku sebuah pembunuhan yang sangat sadis dan menyayat hati.

Mobil yang kutumpangi tiba-tiba berhenti di depan sebuah rumah, lebih tepatnya istana.

“Kita sudah sampai, Tuan Shino.”

Hatiku bergetar. Aku terkejut. Pembunuhan itu…

Pembunuhan itu terjadi di gerbang rumah ini.

Entah kapan.

“Tuan!!” teriak gadis itu.

***

Inikah kehidupanku?

Yang semula hanya diterangi oleh bintang-bintang di langit, sekarang malah menjadi anak keluarga terhormat.

Inikah kenyataannya?

Atau hanya mimpi?

Sayang, bahkan bibirku pun tak sanggup menjawabnya.

Aku bukan siapa-siapa. Tapi kenapa? Kenapa? Kenapa aku harus menerima apa yang bukan milikku?

Aku tak layak.

Tak layak.

Tidak.

Aku harus melepaskan hak ini. Aku bukan seorang Shino Asuka, anak keluarga terhormat yang disegani oleh banyak orang. Aku bukan seorang Shino Asuka yang mempunyai pelayan yang baik budinya.

Aku bukan Shino Asuka.

Bukan aku.

Tapi hati kecilku menegaskan bahwa kenyataan itu takkan pernah dapat disangkal, bagaimanapun caranya.

Tunggu.

Aku sadar, dengan meninggalkan sedikit rasa nyeri di kepala dan cemas di hati.

Kubuka mataku.

Bukan.

Aku masih bermimpi. Entah di mana keberadaanku sekarang. Yang dapat kulihat hanyalah kegelapan semata.

“Hmm?”

Aku melihat secercah cahaya di kejauhan.

“Lari. Lari.”

Entah mengapa tetapi hati kecilku memaksaku untuk berlari menjauh.

“Lari, lari, lari.”

Tetapi aku tetap tak bergeming.

Mungkinkah aktin dan miosin dalam serabut lurikku tak mau bereaksi sehingga jalinan otot kakiku tidak berkontraksi?

Cahaya itu bergerak mendekat. Makin dekat.

Sekarang cahaya itu berada sejengkal dari tempat di mana aku menjejakkan kakiku. Dari situlah aku dapat melihat siapa gerangan yang membawanya.

Ternyata seorang tua dengan jubah hitam, melekat dan menutupi seluruh tubuhnya. Dengan lilin di tangan kirinya dan sehelai daun di tangan kanannya dia menatap mataku.

Tatapan matanya membuatku sakit.

“Kau tahu sedang ada di manakah kau ini?” desahnya. Aku hanya terdiam setelah mengetahui pertanyaannya tak mungkin kujawab.

Aku yakin berbohong-atau mengatakan hal yang lain hanyalah sebuah kesia-siaan.

Ya, lebih baik aku diam.

“Sebelum kau menemukan kuncinya, kau akan berada di sini selamanya.”

“Apa maksudmu??” seruku.

“Fuh…”

Cahaya itupun sirna.

Kegelapan itu kembali menyelimuti seluruh ragaku. Yang kutahu hanyalah suara langkah kaki yang makin menjauh, yang tak kudengar sebelumnya.

Hatiku mulai bergejolak. Nuraniku bernapas terengah-engah, seakan lolos dari maut.

Yang kuhadapi sekarang adalah dua makhluk jalang yang tak pernah mengenal rasa malu. Mereka akan berterus terang sampai aku merasa puas akan jawaban mereka.

Mereka bicara.

“Keluarlah kalau kau bisa.”

“Keluar atau mati.”

Aku mulai berpikir. Berpikir keras. Kali ini lebih keras dari biasanya.

“Hilang. Hilang. Hilang dan mati.”

Entah mengapa tetapi otakku tak merespon. Yang ada di sana hanyalah mimpi-mimpiku, dan kesadaran akan diriku.

“Sepuluh detik lagi, Shino.”

Apa? Aku Shino? Benarkah aku ini Shino? Tak mungkin. Aku tetaplah aku.

“Sembilan, Shino.”

Aku merasakan hari-hariku hilang. Short dan long term memoryku seakan sirna perlahan. Kini otakku berusaha mencetak blueprint yang isinya hanyalah Shino, Shino, dan Shino.

“Bukan!!!!! Aku bukanlah Shino!!!”

“Tujuh, Shino.”

“Enam, itulah kebenaran yang harus kauterima.”

Kini aku makin bingung, karena aku seakan tak mengenal diriku. Otakku benar-benar tak menyupport. Di dalamnya hanya ada mimpi-mimpi tak berguna dan satu nama, Shino Asuka.

“Lima, terima dengan hati.”

Tubuhku mulai meyakini bahwa setiap anggotanya merupakan milik Shino Asuka.

“Empat, kematian dan kemusnahan.”

Aku benar-benar tak sanggup. Ingatanku-yang kuingat sekarang hanyalah mimpi-mimpiku yang terdahulu. Diriku, bahkan namaku saja aku sudah tak tahu.

“Tiga, ini adalah milikmu selamanya.”

Segala ingatan tentang diriku sudah dihabisi.

“Dua, peroleh kuncinya.”

Shino. Shino. Shino. Shino. Shino. Shino. Shino. Shino.

“Aku… Shino…” desis bibirku perlahan.

Sial!!!

“Satu, tetaplah bermimpi! Dia takkan pernah terkalahkan!”

Selesai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.